“Politik, Edyan!”
Jakarta menggeliat sejak subuh tiba. Dari marbot Masjid Nur sampai tukang sayur. Dari tukang mie ayam seperti Mas Giman sampai pegawai kantoran kayak Mbak Konny si penggemar mie ayam Mas Giman. Seolah semua warga Jakarta menyambut hari dengan gegap gempita, kecuali Dakyo yang masih meniti mimpi diantara orang-orang yang mengais rizki. Tubuhnya ngulet, ketika sepasang kaki menendang-nendang tubuh yang tulang-tulangnya hanya dilapisi daging yang tipis.
“Tangi-tangi!! Sudah jam sepuluh!” teriak Mas Giman. Yang dibangunkan hanya berdeham, memutar badan sehingga yang tadinya telungkup menjadi terlentang. Pipinya terlihat bekas garis-garis tikar, rambutnya kumal, karena jarang mandi. Kelopak matanya bergoyang-goyang tak tahan terpaan sinar matahari yang melewati sela-sela di atas pintu. Meski sempat menelungkupkan kembali tubuh krempengnya, namun hanya sebentar Dakyo langsung bergerak agak cepat ke posisi duduk, lalu mundur beberapa jengkal mencari tembok buat sandaran. Mungkin bagi orang yang baru melihat polahnya terasa janggal, tapi bagi Mas Giman tidak begitu terganggu atas ritual bangun pagi (padahal sudah siang) Dakyo, mungkin karena sudah terbiasa.
“Belum jalan Mas?” tanya Dakyo perlahan dan pelan.
“Durung?” jawab Mas Giman santai, “Tuh, ngopi dulu, mumpung masih ngebul”
“Mantafff!! lho, udud mana?” seketika beberapa batang rokok berhamburan. Dakyo segera menangkap salah satunya kemudian diselipkan pada kedua bibirnya yang hitam. Tangannya menyambar lembaran koran yang baru saja terbit dan langsung membacanya seperti orang kesurupan.
“Edyan!!! Politiiik… politik… gendeng!!!” Dakyo tiba-tiba berteriak sambil kepalanya geleng-geleng.
“Alah, kayak ngerti aja kowen!” remeh Mas Giman sambil sibuk menata gerobak yang terparkir tepat di depan pintu kontrakan.
“Kalau berita kayak gini, orang yang gak waras aja bisa geleng-geleng Mas. Bener-bener mirip dagelan. Edyan nemen!” Dakyo mencak-mencak. “Dasar Demokrat keparat! Rame-rame maling duit rakyat. Mentang-mentang lagi berkuasa, duit rakyat dikeruk melalui proyek-proyek pemerintah. Century lah, Hambalang lah, Wisma Atlet lah, dan entah proyek apa lagi yang muncul nanti jika ketahuan. Malu.. malu punya pejabat kayak gini.”
Mas Giman paling, penasaran melihat ekspresi marahnya Dakyo. “Terus kamu mau apa? Bisa apa? Ngumpat kayak gitu gak ada gunanya. Mereka-mereka para politikus gak bakalan denger. Kita orang kecil mah yang penting kerja nyari duit buat makan, cukup.”
“Tidak bisa gitu Mas” protes Dakyo. “Meski kita wong miskin tapi harus tetap kritis, jangan mau dibohongi para pejabat yang merasa sok pintar, eh pintarnya gak lebih pintar bohong doang. Nazarudin sudah terdakwa lebih dulu, sekarang Angie sudah tersangka sebentar lagi masuk bui jadi terdakwa. Kita tunggu, siapa lagi yang akan jadi pesakitan berikutnya. Mungkin jika Anas dipecat dari demokrat, bisa jadi langsung jadi tersangka.”
Mas Giman tersenyum tipis, “Haha.. ati-ati kalo ngomong. Entar Bapaknya marah terus ngadu sama wartawan, bahwa semua itu adalah fitnah yang kejam. Sudahlah, Aku luruh duit ndisit!”
“Sip Mas. Laris manis!!!” balas Dakyo sambil membuka lembar koran berikutnya. Asap yang sudah dihisap ke paru-paru siap ia hembuskan.
Ngulet = Menggeliat Tangi = Bangun Durung = Belum Udud = Rokok Kowen = Kamu Nemen = Sangat Luruh = Cari Ndisit = Dulu
18 Feb 2012







